Kamis, 30 April 2015


Aswin masih harus merasakan pengapnya ruang tahanan hingga beberapa bulan ke depan, sejak ia ditahan 5 Januari 2015 lalu. Pria berusia 22 tahun itu baru saja divonis 7 bulan penjara oleh majelis hakim, I Wayan Eka Mariarta, SH di Pengadilan Negeri (PN) Kendari karena perbuatannya melakukan pencurian kendaraan bermotor (Curanmor). "Saya bersyukur, putusannya 7 bulan saja" ungkap Aswin, Rabu (29/4).

 Image

Terdakwa diketahui sehari-hari berprofesi sebagai tenaga honorer pada salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Konawe Selatan. Usai sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Kendari, Suryanto, SH mengaku menerima putusan hakim tersebut dan tidak akan melakukan banding, meski tuntutannya tidak sesuai vonis. (c/p14)
   


Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buton Utara (Butur) menetapkan 32 orang calon bidan pegawai tidak tetap (PTT), hasil seleksi Selasa (21/4) lalu. Saat ini para calon bidan yang dinyatakan lulus tersebut, melengkapi berkas-berkas untuk ditembuskan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes).


Image
Sekretris Dinkes Butur, La Ngkuto mengatakan, hasil tes seleksi para calon bidan PTT yang diikuti sebanyak 102 orang itu sudah diumumkan sejak Sabtu (25/4) lalu. Dari jumlah tersebut pihaknya hanya menerima sebanyak 32 orang, sesuai formasi yang diberikan Kementerian.
   
"Hasil pengumuman itu kami akan ajukan di Dinkes propinsi, untuk mendapatkan persetujuan di Kementerian. Tetapi sebelum diajukan, para calon bidan ini harus melengkapi berkas untuk diverifilasi  oleh Dinkes propinsi,"ungkapnya.
  
Kata dia, proses pelaksanaan seleksi berlangsung aman dan lancar. Dinkes melakukan penjaringan berdasarkan kemampuan atau pemahaman mereka dibidang perbidanan, seperti tes patografi, praktik asuhan persalinan normal, dan wawancara.
   
"Seleksinya ketat, karena pengangkatan bidan PTT ini tidak main-main dan bukan sembarang orang. Sebab, mereka itulah yang akan membantu masyarakat dalam penanganan kesehatan,"katanya.
   
Menurut La Ngkuto, hasil verifikasi dari Dinkes propinsi tidak akan langsung diumumkan untuk mendapatkan surat keputusan (SK) kontrak. Tetapi hasil verifikasi itu, akan ditembuskan dipusat untuk didata kelompok bidan PTT tingkat kabupaten/kota.
   
"Jadi tinggal menunggu SK kontrak dari Kementerian. Setelah itu dilakukan penempatan sesuai kebutuhan desa. Mudah-mudahan dengan hadirnya mereka nanti, dapat membantu masyarakat dalam penanganan kebutuhan kesehatan utamanya bagi ibu-ibu melahirkan,"tukasnya.
   
Dikatakan, sebelum ketambahan 32 orang tenaga kesehatan kontrakan tersebut, Butur mengalami kekurangan tenaga untuk penempatan didesa-desa. Pasalnya tenaga kesehatan didaerah bagian utara pulau Buton ini yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) hanya sekitar kurang lebih 30 orang.
   
"Adapun itu mereka yang berstatus PNS itu lebih banyak ditugaskan dalam kota. Sementara di desa-desa juga membutuhkan bantuan tenaga kesehatan itu. Sehingga dengan adanya tambahan bidan PTT, maka kebutuhan tenaga kebidanan kita tercukupi,"terang, La Ngkuto. (gol/c)


Untuk pertama kalinya, Kolaka Utara mengembangkan budidaya kepiting. Sebanyak 800 benih kepiting dilepas secara perdana di sebuah tambak akhir pekan lalu. Rencananya 20 ribu benih kepiting akan dikembangbiakan. 


 Image

Muhlis, inisiator budidaya kepiting di Kolut mengatakan, inisiatif mengembangkan budidaya kepiting terinspirasi dari budidaya yang ada di palopo dan Bone. Di dua daerah itu, bahkan sudh melakukan ekspor besar-besaran seriap bulannya.
   
"Sebelum kami mulai sudah berbicara dengan pihak pembeli dari negara luar dan dalam negeri. Kami sudah persiapkan keranjangnya 20 ribu ekor untuk pemula," tuturnya.
   
Satu keranjang yang diporsikan untuk satu kepiting itu dipelihara secara terapung dalam sebuah tambak menggunakan ratusan pipa rakitan yang wadahnya dipesan langsung dari Surabaya. Sedangkan bibit kepiting selain didatangkan dari Sulsel, masyarakat Kolut juga bisa menyiapkan untuk dibeli berhubung jenis kepiting tersebut bisa dijumpai di empang atau bakau.
   
Dari segi keuntungan yang ditargetkan panen empat kali setahun itu sambung dia per kilonya ditaksir Rp 120 ribu mengikuti harga dolar atau perkiraan cos sebesar 50-60 persen keuntungan dengan ending ekspor luar negeri. "Kami ingin memberi contoh ke masyarakat bahwa laut itu juga lahan yang sangat luas. Artinya bagaimana masyarakat bisa kreatif dan tidak hanya bergantung berkebun. Kami harap pemda dan juga pemprov bisa mendukung aspirasi kreatif masyarakat," pungkasnya.
   
Kadis Perikanan dan Kelautan Kolut, Muhlis Usman mengapresiasi program itu, sebab membuka lahan pendapatan baru bagi masyarakat. "Jika berhasil, budidaya ini bisa dikembangkan meluas ke masyarakat," optimisnya.
  
Ahmad Yarif pembudidaya kepiting mengatakan bahwa kepiting tersebut makananya berupa cacing yang menjadi favorit jenis binatang amphibi. "Makannya kepiting dua atau tiga kali sehari. Dibeli dari masyarakat. Ini juga peluang bagi yang ingin beternak cacing untuk dijual kepada kami per kilo-nya karena cacingnya juga tidak repot dan menyita sedikit waktu saja, -

Image
Untuk pertama kalinya, Kolaka Utara mengembangkan budidaya kepiting. Sebanyak 800 benih kepiting dilepas secara perdana di sebuah tambak akhir pekan lalu. Rencananya 20 ribu benih kepiting akan dikembangbiakan. - See more at: http://kendarinews.com/content/view/22597/433/#sthash.tl6OBxMq.dpuf
Untuk pertama kalinya, Kolaka Utara mengembangkan budidaya kepiting. Sebanyak 800 benih kepiting dilepas secara perdana di sebuah tambak akhir pekan lalu. Rencananya 20 ribu benih kepiting akan dikembangbiakan. - See more at:

Popular Posts