Tragedi
pembunuhan Salimun (38) warga Gunung Jati yang melibatkan tiga oknum polisi
yakni Bripda RD, Bripda RR dan Bripda AL direka ulang, kemarin. Lokasi halaman
Tempat Hiburan Malam (THM) TWT Kendari menjadi area bagi puluhan oknum polisi
memperagakan 24 adegan menghabisi nyawa warga tersebut.
Semua
bermula ketika korban Salimun masuk ke dalam THM dan bertemu tersangka Bripda
RD, hingga proses pengeroyokan yang mengakibatkan kematian. Adegan itu
menceritakan, awalnya puluhan oknum polisi masuk dengan tidak menggunakan tiket
dan disusul Salimun yang menyelipkan badik di pinggang kirinya. Di dalam TWT,
korban dan Bripda RD bersenggolan. Salimun lalu menarik badiknya dan
mengiris kening polisi muda tersebut.
Bripda Heri Okto lalu menariknya dan memanggil semua rekan-rekan mereka untuk keluar dari TWT. Alasannya RD yang terluka perlu pengobatan. Saat keluar dari lokasi joget, RD kemudian menghampiri Hartati perempuan yang memberikannya minyak angin untuk dioleskan ke keningnya. Setelah melakukan itu, RD kemudian keluar ke halaman parkir TWT. Adegan demi adegan diperagakan hingga akhirnya Salimun keluar dari lokasi hiburan.
Setelah berada di lokasi parkiran RD yang melihat Salimun langsung merangkulnya. Di tempat yang sama ternyata rekan RD berinisial RR memukul korban hingga terjatuh. Namun saat rekonstruksi, antar tersangka terlibat cekcok karena ketidaksesuaian keterangan. Pembelaan mereka, tak ada pukulan yang diberikan pada korban. Namun saksi lain bernama Ambo Sakka yang juga sekuriti TWT menerangkan dihadapan jaksa dan penyidik, bahwa setelah Salimun keluar, RD kemudian merangkul dan membantingnya. Tidak berhenti sampai di situ, RD lalu menindih korban dan memukul berkali-kali. Hingga akhirnya datang rekan-rekan RD yakni RR dan AL juga ikut dalam aksi tersebut.
Bripda Heri Okto lalu menariknya dan memanggil semua rekan-rekan mereka untuk keluar dari TWT. Alasannya RD yang terluka perlu pengobatan. Saat keluar dari lokasi joget, RD kemudian menghampiri Hartati perempuan yang memberikannya minyak angin untuk dioleskan ke keningnya. Setelah melakukan itu, RD kemudian keluar ke halaman parkir TWT. Adegan demi adegan diperagakan hingga akhirnya Salimun keluar dari lokasi hiburan.
Setelah berada di lokasi parkiran RD yang melihat Salimun langsung merangkulnya. Di tempat yang sama ternyata rekan RD berinisial RR memukul korban hingga terjatuh. Namun saat rekonstruksi, antar tersangka terlibat cekcok karena ketidaksesuaian keterangan. Pembelaan mereka, tak ada pukulan yang diberikan pada korban. Namun saksi lain bernama Ambo Sakka yang juga sekuriti TWT menerangkan dihadapan jaksa dan penyidik, bahwa setelah Salimun keluar, RD kemudian merangkul dan membantingnya. Tidak berhenti sampai di situ, RD lalu menindih korban dan memukul berkali-kali. Hingga akhirnya datang rekan-rekan RD yakni RR dan AL juga ikut dalam aksi tersebut.
Adegan
terakhir terlihat puluhan orang menghampiri korban dan memukul. Namun menurut
RD, RR dan AL orang-orang itu tidak diketahuinya, namun karena pengeroyokan
puluhan orang tak dikenal itu Salimun tewas dan harus dilarikan dirumah sakit.
Herlina Rauf. SH, selaku jaksa yang menyaksikan rekonstruksi itu, menyatakan
pihaknya belum bisa memastikan apakah ada penambahan tersangka atau tidak.
"Kan masih penyidikan. Untuk saat ini belum ada," terangnya,
Sementara itu Kasatreskrim Polres Kendari, AKP Robby Topan menerangkan, rekonstruksi itu adalah upaya memperjelas kasus. Hal itu tidak lepas dari petunjuk jaksa setelah menggangap P-19 berkas tahap I yang dikirim penyidik kepolisian. "Rekonstruksi berjalan dengan baik, hal itu dilakukan karena petunjuk jaksa pemeriksaan saksi tambahan. Makanya kami gelar rekon. Untuk penambahan tersangka belum ada," terangnya. (b/egy)
- See more
at: http://kendaripos.co.id/content/view/21451/178/#sthash.P8BP6hQ1.dpuf


0 komentar:
Posting Komentar